
JADTI DIRI SEORANG MURID
.gif)
Yesus mendekati mereka dan berkata:
“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di
bumi.
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku
dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh
Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang
telah Kuperintahkan kepadamu.
Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai
kepada akhir zaman.” Matius 28:18-20
“The church changes the world not by making converts but
by making disciples.”
John Wesley
Jika kita mempelajari mengenai Amanat Agung, maka ada
satu tema sentral yang seringkali justru dilupakan oleh
orang Kristen yaitu menjadikan semua bangsa murid-Ku.
Menurut bahasa aslinya, kata murid (Yun. mathetes) dalam
ayat tersebut memiliki pengertian seseorang yang belajar.
Dalam hal ini pengertian belajar bukan sekedar untuk
menambah pengetahuan, tetapi dengan tujuan melakukan
segala perintah Yesus di dalam kuasa-Nya yang selalu
menyertai.
I. Mengapa Harus Menjadi Murid?
Menarik untuk dicatat bahwa Yesus selalu memanggil
pengikutnya dengan kata murid. Istilah inilah yang pada
awalnya melekat kepada orang-orang yang percaya kepada
Yesus. Setelah gereja berdiri beberapa lama, barulah
orang-orang mulai menyebut para murid sebagai orang
Kristen (Kisah Para Rasul 11:26) yang berarti pengikut
Kristus. Namun status orang percaya sebagai murid tidak
hilang. Ada beberapa alasan mengapa Tuhan ingin agar
kita menjadi murid dan menjadikan segala bangsa murid.
A. Cara Tuhan Untuk Memperluas Kerajaan Allah
Yesus sendiri melakukan cara ini ketika Ia melayani di
bumi. Selama kira-kira tiga setengah tahun Yesus
mengajar dan melatih murid-murid-Nya. Ada lebih dari 40
ayat dalam seluruh kitab Injil yang mencatat bahwa Yesus
mengajar dan ada 284 ayat yang menggunakan kata murid.
Yesus juga mengutus murid-murid-Nya dalam pelayanan
untuk mempraktekan apa yang sudah mereka pelajari. Hal
ini mencapai titik klimaksnya ketika di dalam kitab
Kisah Para Rasul murid-murid menerima kuasa Roh Kudus
untuk menjadi saksi, memberitakan kabar baik ke seluruh
dunia, akibatnya jumlah murid semakin bertambah (Kisah
Para Rasul 6:1).
Apakah yang dilakukan oleh jemaat gereja mula-mula? Ada
19 ayat dalam Kisah Para Rasul yang mencatat bahwa para
rasul mengajar dan 30 ayat menggunakan kata murid
sementara hanya dua ayat memakai kata Kristen.
“Supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa
dan pelayanan Firman”
Kisah Para Rasul 6:4
Berdasarkan ayat tersebut kita dapat melihat bahwa
selain berdoa, mengajar memiliki porsi besar dalam
pelayanan para Rasul dalam gereja mula-mula. Lukas
mencatat mengenai kebiasan jemaat mula-mula;
“Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam
persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk
memecahkan roti dan berdoa”
Lukas 2:42
Selain berkumpul dan berdoa dalam ibadah-ibadah,
orang-orang percaya bertekun dalam pengajaran
rasul-rasul, ini artinya para rasul memuridkan
orang-orang yang percaya kepada Yesus, tepat seperti
yang diperintahkan oleh Yesus dalam Amanat Agung.
Kerajaan Allah diperluas dengan cara menjadikan semua
bangsa murid Yesus, artinya mereka menerima kebenaran
mengenai Yesus dan keselamatan yang Ia sediakan bagi
semua manusia. Hal ini tidak berarti semua orang percaya
harus menjadi seorang guru atau pengkhotbah. Seorang
murid yang belajar dan menerima kebenaran Firman Tuhan,
maka hidupnya akan menjadi surat Kristus yang dapat
dibaca semua orang (2 Korintus 3:2-3). Hal ini berarti
bahwa sebagai murid kita menjadi saksi hidup yang dapat
dilihat oleh dunia ini, baik lewat pertobatan kita,
perubahan hidup kita, pelayanan kita, kasih kita bahkan
seluruh aspek kehidupan kita untuk memuji kemuliaan
Tuhan.
Seorang murid yang benar dan baik ialah seorang yang
mengasihi Tuhan dan sesama, sehingga menggunakan dan
memakai semua pengetahuan, fasilitas, materi dan uang
untuk memuliakan Tuhan dan memberkati sesama.
“Sebab bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang
kemuliaan TUHAN, seperti air yang menutupi dasar laut”
Habakuk 2:14
B. Memperkuat Iman Orang Percaya Untuk Menghadapi
Tantangan
Ketika seseorang percaya kepada Yesus, maka mereka harus
meninggalkan cara hidup mereka yang lama dan hidup
dengan cara yang baru. Perubahan cara hidup ini harus
dimulai dengan perubahan pola pikir. Paulus menulis:
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi
berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat
membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang
berkenan kepada Allah dan yang sempurna”
Roma 12:2
Mengapa orang percaya harus berubah? Karena walaupun
sudah mengalami kelahiran baru dan menjadi ciptaan yang
baru, orang percaya masih hidup di dunia yang sudah
jatuh dalam dosa. Tantangan dan pergumulan masih harus
dihadapi oleh setiap orang percaya.
Dalam sebuah penelitian terhadap orang Kristen ditemukan
bahwa mereka yang memiliki kelenturan kognitif yang
tinggi, cenderung lebih setia dalam imannya walaupun
sudah melalui pergumulan yang berat dalam hidupnya.
Kelenturan Kognitif (cognitive flexibility) adalah
“kemampuan untuk menyesuaikan perilaku sebagai respon
terhadap perubahan yang terjadi disekitar.” Kemampuan
ini adalah salah satu bagian penting dari fungsi
eksekutif otak manusia. Kemampuan ini dapat dikembangkan
dengan memperhatikan apa yang kita pikirkan . Jadi,
mereka yang membaca dan merenungkan firman Tuhan akan
lebih tahan dalam menghadapi tantangan, lebih setia
menghadapi cobaan dan lebih kuat dalam imannya kepada
Tuhan.
“Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran
oleh firman Kristus.”
Roma 10:17
C. Menghadapi Bahaya Pengajaran Sesat
Salah satu ancaman paling besar yang dihadapi oleh orang
Kristen sejak gereja mula-mula hingga akhir zaman adalah
pengajaran sesat. Bahkan jika kita melihat pola serangan
iblis kepada orang percaya sejak awal hingga kesudahan
zaman adalah dengan dusta, tipu muslihat, kepalsuan dan
ajaran yang menyimpang (Efesus 6:11). Semua hal tersebut
berkaitan dengan area pikiran. Dimulai dari tipu
muslihat kepada Hawa di Taman Eden (Kejadian 3:1-4),
hingga penyesatan di akhir dari kerajaan seribu tahun (Wahyu
20:8). Itulah sebabnya Yesus menyebutkan bahwa iblis
adalah pendusta dan bapa segala dusta (Yohanes 8:44).
Seperti sudah dibahas dalam paper sebelumnya , insan
pentakosta memiliki tiga pilar untuk menguji sebuah
pengajaran;
• pilar Holy Spirit (Roh Kudus),
• pilar Holy Community (Komunitas Kudus) dan
• pilar Holy Scripture (Firman Tuhan).
Selain Roh Kudus dan komunitas kudus, Firman Tuhan
adalah pilar sama pentingnya dengan yang lain. Bahkan
dapat dikatakan, Firman Tuhan menjadi standar tak
tergoyahkan yang digunakan untuk mengukur dua pilar yang
lainnya. Rasul Yohanes menulis bahwa Yesus adalah Firman
Allah; “Pada mulanya adalah Firman” (Yohanes 1:1).
Segala sesuatu diciptakan oleh Firman; “Segala sesuatu
dijadikan oleh Dia” (Yohanes 1:3). Ketika Yesus datang
kembali untuk mengalahkan Antikristus Ia memakai titel
Firman Allah; “Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup
dalam darah dan nama-Nya ialah: "Firman Allah"” (Wahyu
19:13).
Ketika Tuhan Yesus bernubuat mengenai kondisi akhir
zaman seperti tercatat dalam Matius 24, maka salah satu
tanda akhir zaman adalah penyesatan, mesias palsu dan
nabi palsu. Petrus juga menyebutkan akan munculnya
guru-guru palsu. Kita perlu menyadari bahwa kata “palsu”
disini menyiratkan sesuatu yang seperti asli tetapi
sebenarnya bukan. Sesuatu yang sepertinya benar padahal
salah.
Kebanyakan orang Kristen akan segera menolak sesuatu
yang nyata-nyata bertentangan dengan apa yang secara
umum Ia percaya.Namun cara kerja penyesatan adalah
dimulai dengan sebuah pemikiran yang sepertinya benar,
sepertinya lebih masuk akal, tetapi sebenarnya salah.
“Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya
menuju maut”
Amsal 14:12
Ada sebuah ungkapan yang berkata “the devil is in the
detail” yang artinya Iblis bekerja di area yang
kelihatannya tidak penting tetapi sebenarnya punya
dampak yang fatal. Hal ini berarti dalam menghadapi
pengajaran sesat diperlukan tingkat pemahaman akan
kebenaran yang menyeluruh.
Di era informasi digital sekarang ini, setiap orang bisa
mencari, mendapatkan ataupun terpapar oleh berbagai
jenis informasi. Tidak semua informasi yang tersedia
adalah informasi yang benar. Sebaliknya ada pihak-pihak
tertentu yang sengaja membuat dan menyebarkan informasi
yang tidak benar (hoax, fake news, teori konspirasi)
yang dapat mengalihkan perhatian kita dari hal-hal yang
esensi atau bahkan dapat menyesatkan kita dan membuat
kita meninggalkan iman kita kepada Tuhan.
Dalam Alkitab kita menemukan bahwa Tuhan menggunakan
Firman Tuhan sebagai senjata untuk melawan pengajaran
sesat dan tipu muslihat iblis. Lima kali di dalam
Alkitab di mana Firman Tuhan digambarkan sebagai pedang
(Efesus 6:17; Ibrani 4:12; Wahyu 1:16, 2:16, 19:15).
Untuk melawan dusta, tipu muslihat, dan pengajaran yang
sesat haruslah dengan kebenaran. Oleh karena itu sebagai
orang percaya tidak ada alasan untuk tidak belajar
Firman Tuhan karena di dalamnya tersedia kebenaran Allah
yang akan menelanjangi pengajaran sesat.
“Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal
Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan
menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang
nyata dalam Yesus.” - Efesus 4:19-20
II. Kesalahpahaman Mengenai Pengajaran
Namun ada orang-orang Kristen yang tidak terlalu suka
dengan pengajaran, menganggap bahwa pengajaran adalah
sesuatu yang rumit, membosankan dan tidak terlalu
berpengaruh terhadap hidupnya . Mereka berpikir yang
penting adalah percaya dan memiliki pengalaman bersama
dengan Tuhan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini
semakin nampak terutama kepada insan Pentakosta.
Tidak dapat dipungkiri bahwa Gereja Pentakosta adalah
gereja yang menaruh bobot yang cukup besar kepada
pengalaman rohani bersama dengan Roh Kudus. Luapan hati
ketika jemaat merasakan hadirat Tuhan diekspresikan
dalam suasana ibadah yang dinamis dan pujian-penyembahan
yang penuh semangat. Dalam hal pelayanan, penyataan
kuasa Roh Kudus melalui karunia-karunia seperti
berbahasa roh, pelayanan kesembuhan ilahi, mujizat dan
karunia-karunia lainnya adalah warna dari kehidupan
rohani insan Pentakostal.
Semua hal tersebut akan sangat kontras berbeda ketika
dibandingkan dengan suasana yang terjadi dalam proses
belajar yang terkesan formil, statis dan kaku sehingga
dirasa tidak menarik. Apalagi jika ditambah dengan
pembahasan hal-hal yang “lebih dalam” seperti
ketritunggalan Allah, inkarnasi Yesus, penebusan dosa,
kedaulatan Allah dan topik-topik alkitabiah lainnya.
Hal-hal seperti ini yang kemudian mendorong orang
Kristen untuk mencoba menyederhanakan kebenaran Firman
Tuhan karena dianggap terlalu rumit untuk dimengerti.
Namun yang menjadi permasalahan adalah bahwa apa yang
tertulis dalam Alkitab adalah fakta kebenaran mengenai
realita rohani yang sudah Tuhan tetapkan. Kita tidak
bisa memilih untuk memiliki kebenaran yang sederhana
sesuai dengan keinginan kita, karena realita mengenai
Pribadi Pencipta Alam Semesta pasti tidak sederhana. Ada
yang berpendapat bahwa Tuhan itu tidak rumit sehingga
manusia bisa mengerti Tuhan dengan sepenuhnya. Namun
jika Tuhan bisa dimengerti sepenuhnya oleh manusia, maka
Dia bukan lagi Tuhan.
A. Pengalaman Rohani Dianggap Lebih Penting Daripada
Pengajaran
C.S. Lewis di dalam bukunya yang berjudul “Mere
Christianity” membuat sebuah ilustrasi mengenai tensi
antara pengalaman rohani dan pengajaran . Jika seseorang
pernah melihat samudera Atlantik dari sebuah pantai, dan
kemudian melihat sebuah peta samudera Atlantik, maka ia
berpindah dari pengalaman yang nyata kepada yang kurang
nyata: berpindah dari merasakan ombak yang nyata kepada
sepotong kertas berwarna. Tetapi disinilah poin-nya.
Peta tersebut memang hanya sebuah kertas berwarna,
tetapi ada dua hal yang harus Anda ingat mengenai peta
tersebut.
Pertama, peta tersebut dibuat berdasarkan temuan ratusan
bahkan ribuan orang ketika mereka berlayar di samudera
Atlantik tersebut. Jadi peta tersebut dibuat berdasarkan
pengalaman-pengalaman yang nyata dari ratusan bahkan
ribuan orang, senyata seperti yang dialami jika kita ada
di pantai tersebut: bedanya, pengalaman kita hanyalah
sebuah pengalaman pribadi yang sempit dan terbatas, peta
tersebut adalah gabungan dan kombinasi dari semua
pengalaman orang-orang yang merasakan melintasi Atlantik
sebelumnya.
Hal yang kedua, jika kita ingin pergi melintasi Atlantik,
maka harus menggunakan peta tersebut. Jika kita hanya
puas dengan berjalan-jalan di pantai saja, maka
pengalaman kita akan jauh lebih menyenangkan dari pada
melihat sebuah peta. Tetapi jika kita ingin melintasi
Atlantik, maka peta tersebut jauh lebih bermanfaat dari
pada pengalaman berjalan di tepi pantai.
Pengajaran itu seperti peta. Jika kita hanya mempelajari
dan merenungkan mengenai doktrin kekristenan saja, maka
hal tersebut tidak nyata dan tidak terlalu menyenangkan
dibandingkan pengalaman rohani yang nyata bersama dengan
Tuhan. Pengajaran bukanlah Tuhannya, melainkan seperti
sebuah peta menuju pengenalan akan Tuhan. Pengajaran
adalah peta yang dibuat berdasarkan pengalaman dari
ratusan orang yang sudah memiliki perjalanan bersama
dengan Tuhan.
Jika sebagai orang Kristen kita tidak mau menjadi murid
dan belajar kebenaran Alkitab, maka bukan berarti kita
sama sekali tidak mengenal Allah, namun lebih parah dari
pada itu, kita akan memiliki banyak pemikiran yang salah
mengenai Allah. Itulah sebabnya pengalaman rohani yang
didapatkan seseorang secara pribadi seperti mimpi,
penglihatan, nubuat harus diuji berdasarkan firman Tuhan
(1 Tesalonika 5:19-21; 1 Yohanes 4:1).
Kita tidak dapat pergi kemana-mana hanya dengan melihat
peta tanpa pergi berlayar di laut. Namun kita juga tidak
akan sampai ke tujuan jika pergi berlayar di laut tanpa
menggunakan peta. Memiliki pengalaman rohani tentu lebih
menyenangkan dan terasa lebih nyata, tetapi tidak akan
membawa kita kemana-mana. Disisi lain, hanya fokus
kepada pengajaran akan terasa sangat kering dan
membosankan. Jadi pengalaman rohani dan pengajaran sama
pentingnya.
B. Pengajaran Dianggap Sebagai Sumber Potensi Perpecahan
Gereja
Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu penyebab dari
perpecahan di dalam gereja adalah karena perbedaan
pengajaran. Namun disisi lain, jika ada sebuah doktrin
yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan Alkitab
maka pemisahan belum tentu merupakan sesuatu yang buruk.
Dalam pelayanan-Nya selama kira-kira tiga setengah tahun
di bumi ini, beberapa kali Yesus harus menghadapi
pengajaran orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang
menyimpang dan Yesus tidak segan-segan untuk menegur
bahkan memisahkan diri-Nya dan pengajaran-Nya dari
mereka.
Salah satu contoh adalah kejadian yang dicatat di dalam
Matius pasal 15. Pada waktu itu orang-orang Farisi dan
ahli Taurat mempertanyakan mengapa Yesus dan
murid-murid-Nya tidak membasuh tangan sebelum makan
seperti yang diwajibkan di dalam hukum Taurat. Kemudian
Yesus menanggapi tuduhan itu dengan mengajarkan sebuah
prinsip:
“Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut
yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut,
itulah yang menajiskan orang”
Matius 15:11
Mendengar hal tersebut murid-murid Yesus menyatakan
kepada Yesus bahwa apa yang Ia katakan telah menjadi
batu sandungan bagi orang Farisi (ayat 12). Dengan kata
lain, orang-orang Farisi itu sangat tersinggung dengan
perkataan Yesus. Tentu saja Yesus mengetahui hal
tersebut dan Yesus memang sengaja melakukan hal itu.
Jawab Yesus:
“Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di
sorga akan dicabut dengan akar-akarnya. Biarkanlah
mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta.
Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya
jatuh ke dalam lobang” (ayat 13, 14).
Albert Mohler dalam papernya menulis bahwa ada tiga
tingkat kekritisan sebuah pengajaran yang memerlukan
respon yang berbeda. Ia menyebutnya sebagai theological
triage. Triage adalah istilah yang dipakai dalam ilmu
kedokteran untuk menentukan tindakan yang harus
dilakukan kepada seorang pasien yang baru masuk ke dalam
sebuah ruang gawat darurat. Kata triage sendiri berasal
dari bahasa Perancis yang berarti mengelompokan atau
memilah-milah. Ketika ada pasien yang masuk ke dalam
ruang gawat darurat maka petugas yang pertama kali
menemui pasien tersebut harus menentukan apakah pasien
tersebut memerlukan prioritas atau masih dapat menunggu.
Seseorang yang mengalami kecelakaan hebat tentunya lebih
dahulu ditangani dibandingkan orang yang hanya terkilir
kakinya.
Hal yang sama juga berlaku dalam pengajaran. Ada
tingkatan kepentingan yang berbeda dari suatu pengajaran:
• Tingkat pertama: Pengajaran dasar dalam Kekristenan
yang mempengaruhi keselamatan. Pengajaran-pengajaran ini
tidak dapat diubah atau dikompromikan sekecil apapun,
yaitu pengajaran mengenai Alkitab adalah firman Tuhan,
Tritunggal, Ketuhanan Yesus, Karya Penebusan, dan
Keselamatan oleh kasih karunia melalui iman hanya kepada
Tuhan Yesus Kristus.
Pada tingkat ini jika ada perbedaan maka penolakan
bahkan sampai perpecahan adalah sesuatu yang dapat
diterima bahkan mungkin harus terjadi dan tidak dapat
dihindari. Kita dapat memberikan label pengajaran sesat
kepada mereka yang menolak pengajaran dasar kekristenan
ini. Misalnya Saksi Yehova, Mormon, Christian Science,
Unitarian dll.
• Tingkat kedua: Perbedaan pengajaran yang dapat
memisahkan gereja, tetapi tidak mempengaruhi keselamatan.
Contoh pengajaran seperti kepastian keselamatan, metode
baptisan air, baptisan dan karunia Roh Kudus. Kita dapat
memiliki doktrin yang berbeda dengan gereja dari
denominasi non-pentakostal tetapi kita tidak dapat
mengatakan bahwa jemaat dari gereja tersebut tidak akan
diselamatkan selama mereka percaya kepada Yesus Kristus
sebagai Tuhan dan Juru Selamat.
• Tingkat ketiga: Pengajaran yang berbeda tetapi tidak
cukup penting untuk memisahkan gereja. Contoh pengajaran
seperti urutan peristiwa kedatangan Yesus yang kedua
kali dan akhir zaman.
Seperti seorang petugas di ruang gawat darurat yang
melakukan penilaian akan tingkat kekritisan pasien yang
datang, demikian juga orang Kristen harus melakukan
penilaian akan tingkat kekritisan sebuah pengajaran.
Tanpa pembedaan tingkat prioritas ini, dapat terjadi
dimana setiap perbedaan pengajaran sekecil apapun dapat
menjadi potensi perpecahan gereja. Atau sebaliknya,
terjadi kompromi yang hebat ketika perbedaan pengajaran
yang bertentangan tetap diterima dan ditoleransi di
dalam gereja. Dalam hal ini diperlukan pengetahuan
Firman, tingkat kedewasaan rohani dan hikmat dari Roh
Kudus untuk menilai apakah sebuah pengajaran kita tolak
atau kita terima.
Sebagai catatan: Gereja Bethel Indonesia memiliki
Pengakuan Iman GBI, Pengajaran Dasar GBI dan Sikap
Teologis Gereja Bethel Indonesia yang menjadi acuan
standar pengajaran di dalam lingkungan gereja. Kita
harus memberikan perhatian yang lebih besar terhadap
pengajaran-pengajaran di tingkat pertama karena dampak
yang ditimbulkannya berpengaruh langsung kepada
keselamatan seseorang. GBI Jl.Jend.Gatot Subroto,
Jakarta pun mengeluarkan Official Standing Paper (Sikap/Pandangan
GBI Jl.Jend.Gatot Subroto) untuk menjadi acuan hal-hal
yang lebih spesifik.
C. Ketulusan Hati Dianggap Lebih Penting Daripada
Pengetahuan
Ada beberapa orang Kristen yang berpikir bahwa yang
penting mereka memiliki motivasi yang tulus dalam hati
mereka di hadapan Tuhan dalam perjalanan kehidupan
rohani mereka dan itu sudah cukup. Salah satu ayat yang
sering disalah artikan adalah ketika Yesus berkata:
“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak
bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak
akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga”
Matius 18:3
Dari ayat ini maka dibuatlah sebuah pengertian bahwa
orang percaya harus seperti anak kecil yang polos. Namun
jika kita pikirkan sungguh-sungguh, seorang anak kecil
walaupun tidak memiliki banyak pengertian bukan berarti
mereka tidak punya keinginan untuk belajar. Menjadi
seperti anak kecil tidak sama artinya dengan menjadi
bodoh. Seorang anak secara alamiah selalu memiliki rasa
ingin tahu yang besar.
Yesus berkata:
“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah
serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular
dan tulus seperti merpati”
Matius 10:16
Tuhan menginginkan kita untuk memiliki hati seperti
anak-anak, tetapi pola pikir orang dewasa. Jadi tidak
ada alasan untuk tidak belajar. Penulis kitab Ibrani
juga menulis mengenai hal ini;
“Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi
yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban
dalam hal mendengarkan. Sebab sekalipun kamu, ditinjau
dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar,
kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari
penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan
makanan keras. Sebab barangsiapa masih memerlukan susu
ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia
adalah anak kecil. Tetapi makanan keras adalah untuk
orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera
yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang
jahat”
Ibrani 5:11-14
III. Aplikasi Praktis
Dalam suratnya, Rasul Petrus menulis bahwa orang percaya
menerima kelimpahan kasih karunia dan damai sejatera
karena pengenalan akan Allah dan akan Yesus. Selain itu,
Tuhan juga menganugerahkan kepada kita segala sesuatu
yang berguna untuk hidup yang saleh, oleh karena
pengenalan kita akan Dia. Dengan cara itu kita dapat
mengambil kodrat ilahi dan luput dari hawa nafsu dunia
yang membinasakan dunia (2 Petrus 1:2-4).
Bagaimana cara kita memiliki pengenalan akan Allah?
Rasul Petrus memberikan langkah-langkahnya:
“Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh
berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan
kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan
penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan
kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih
akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan
saudara-saudara kasih akan semua orang.”
2 Petrus 1:5-7
Sebagai murid kita harus senantiasa belajar untuk
semakin mengenal Tuhan. Kehidupan seorang murid sejati
adalah kehidupan yang senantiasa berubah semakin baik,
bukan untuk kemuliaan diri sendiri tetapi menjadi
saluran kasih yang berdampak kepada semua orang. Semua
pengingkatan tersebut dimulai dengan kata
“sungguh-sungguh berusaha.”
Di dalam kitab Amsal, terdapat 19 ayat di mana Tuhan
menegur bahkan mengutuk orang yang malas. Tuhan tidak
suka kepada orang yang malas bekerja, juga kepada orang
yang malas belajar. Sebagai murid adalah jati diri kita
untuk senantiasa belajar. Belajar tidak mengenal usia
maupun posisi/jabatan pelayanan. Mulailah dengan membaca
dan merenungkan Alkitab setiap hari, mendengarkan
khotbah dan pengajaran yang sehat dari gereja, mengikuti
kelas-kelas KOM. Lakukan semua itu dengan hati yang
penuh dengan kerinduan untuk semakin mengenal Tuhan.
Kepada orang yang percaya kepada-Nya, Tuhan tidak hanya
meminta seluruh hati kita, tetapi juga seluruh pikiran
kita. Namun terpujilah Tuhan karena melalui kasih
karunia-Nya, ketika kita sungguh-sungguh berusaha, maka
Tuhan akan mempertajam kemampuan kita untuk belajar.
“Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan
berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan
berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan
kita.”
2 Petrus 1:8
“Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang
murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi
semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi
Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti
seorang murid.” Yesaya 50:4
Amin (PT)